Selasa, 14 Januari 2020

Sebelum kita menelisik salah satu pemikiran Imam al-Ghozali dalam kitab "Iljamul awwam an' ilmil kalam", perlu diketahui bahwa generasi milenial hari ini mengalami krisis  pembacaan terhadap diri sendiri. Oleh karena itu pembacaan terhadap diri sendiri tentunya akan melahirkan kebijaksanaan, baik dalam ucapan dan perbuatan. Kitab "Iljamul awwam an' ilmil kalam" karya Imam al-Ghozali ini sangatlah penting bagi siapapun dan kapanpun mengingat bahwa kitab ini menjadi pondasi dasar untuk menyadari bahwa kita adalah manusia yang penuh dengan keterbatasan, kekurangan, dan kelemahan. 

Imam Al-Ghazali dalam kitabnya memberikan gagasan kepada kita bagaimana agar menjadi awam yang baik. Hal ini mengindikasikan dan mengingatkan kepada kita bahwa terdapat orang awam yang tidak baik, karena akhir-akhir ini banyak kerusakan, kekacauan, kegaduhan yang disebabkan oleh orang awam yang tidak baik. Imam al-Ghozali memberikan pandangan bahwa orang awam yang tidak baik adalah orang yang gemar berkata tentang apa saja namun ia tidak mahir dalam bidang itu bahkan bodoh dalam bidang tersebut.
Dalam kitab “Iljamul awam al-ilmi al-kalam” Imam Ghazali mengajak kita untuk selalu mawas diri, memeriksa, meneliti, menelisik, dan mengintropeksi diri kita sendiri kita sampai kita benar-benar sadar bahwa diri kita adalah orang awam. Yang dimaksud awam adalah menyadari bahwa hal tersebut merupakan bukan keahlian dan bidang kita. Lebih tepatnya adalah seseorang harus mengakui ketidakpamahamannya tentang sesuatu. 
Apa yang Imam al-Ghozali gagas dalam kitab tersebut merupakan satu bentuk perlawan kepada pemikiran barat yang selalu menuntut seseorang agar bisa mengerti apa saja atau  dikenal dengan istilah profesional. Imam Ghazali mengajak kita untuk menjadi awam yang baik, yang tidak sadar akan keawamannya tentang hal yang ia tidak ketahui. 
Sampai hari ini kita banyak sekali melihat kerusakan, kekacauan, kegaduhan yang terjadi. hal ini disebabkan oleh banyaknya orang awam yang tidak mengerti batasannya, tidak mengerti posisinya dan asal-asalan dalam berendapat, berkata, bahkan berfatwa. 
Imam al-Ghazali mengatakan, agar kita menjadi awam yang baik, kita harus memperhatikan syarat-syarat sebagai berikut :
1. Taqdis (Menyucikan diri)
Seorang Muslim dalam agama pasrahkan segala sesuatu pada Allah saja. Contohnya dalam berdo'a kita tidak berhak memaksakan keinginan kita. Apapun itu serahkan saja pada Allah swt. Jika selain dalam bidang agama maka sudah seharusnya kita pasrahkan pada ahlinya tanpa perlu berkomentar atau memperotes.  
2. Al-’iman wa tasdiq (percaya dan membenarkan)
Seorang Muslim percaya dan membenarkan, tidak banyak berdebat atau menanyakan dalil.
3. Al-i’tiraf bi al-Ajsi (mengakui kelemahan diri)
Seorang Muslim harus memliki kesadaran akan kelemahan diri bahwa dirinya tidak ahli, tidak mampu dalam masalah ini. Jangan menjadi orang sok paham terhadap hal apasaja lebih baiknya akui saja kalau kita lemah.
4. Al-sukut ‘an su’al (tidak mempertanyakan)
Seorang Muslim sudah seharusnya tidak banyak bertanya terhadap sesuatu yang tidak ia pahami dan ia ketahui, pertanyaan itu boleh saja diutarakan namun ada batasannya, bukan pertanyaan yang menjatuhkan lawan bicara atau pertanyaan yang sifatnya mengetes lawan bicara. 
5. Al-imsak ‘an tsarruf fi al-alfadz (menahan diri untuk ‘menggarap atau menafsir’ nash yang tidak dipahami) tidak perlu nafsir-nafsir dengan akal dan fikirannya sendiri, terlebih untuk memuaskan nafsu belaka, hal ini sangat dan harus dihindari. 

Demiakanlah uraian singkat isi kitab "iljamul awam an ilmi kalam", karya imam al-Ghozali.
Semoga kita selalu menjadi pribadi yang lebih baik, gemar bermuhasabah dan muroqobah kepada Allah swt. .