MAKALAH STUDI TOKOH "ABU ASWAD AD-DU’ALI"
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Nahwu
adalah ilmu yang mempelajari kaidah untuk mengenal fungsi-fungsi kata yang
masuk pada kalimat, mengenal hukum akhir kata, dan untuk mengenal cara
memberikan tanda baca atau i’rob. Nahwu merupakan salah satu cabang ilmu bahasa
yang mendapatkan perhatian khusus dari khalifah ke empat yaitu Ali bin Abi
Thalib. Hal ini didasari karena banyaknya orang Arab pada zamannya yang
melakukan lahn atau kesalahan dalam mengucapkan bahasa Arab. Ali bin Abi
Thalib pun memerintahkan muridnya yaitu Abul-Aswad a’d-Duwali untuk
menyelesaikan problem dalam kasus lahn.
Dalam
perkembangan ilmu nahwu terdapat sejumlah madrasah yang muncul yaitu mazhab
Bashrah, Kufah, Baghdad, Andalusia, dan Mesir. Mazhab Bashrah merupakan pionir
bagi mazhab lainnya, karena ia merupakan peletak pertama kaidah nahwu.
Sementara itu, mazhab lainnya adalah pengembangan dari mazhab Bashrah. Hal ini
disebabkan pendiri atau tokoh-tokoh mazhab-mazhab tersebut merupakan murid dari
tokoh-tokoh mazhab Bashrah.
Maka
dalam makalah ini akan membahas biografi Abul-Aswad a’d-Duawali, kontribusi
Abul-Aswad a’d-Duawali dalam ilmu nahwu dan murid-murid Abul-Aswad a’d-Duawali.
B. Rumusan Masalah
Berangkat dari latar belakang diatas maka rumusan pada makalah ini
adalah sebagai berikut?
1.
Siapa
Abul-Aswad a’d-Duawali?
2.
Apa
kontribusi yang diberikan oleh Abul-Aswad a’d-Duawali dalam ilmu nahwu?
C. Tujuan penulisan
Adapun penulisan makalah ini memeliki beberapa tujuan diantaranya
adalah :
1.
Mengetahui
biografi Abul-Aswad a’d-Duawali.
2.
Mengetahui
kontribusi Abul-Aswad a’d-Duawali dalam ilmu nahwu.
PEMBAHASAN
Madzhab Basrhoh
Periodisasi
generasi Ulama Bashrah terdapat perbedaan pendapat. Ada yang membaginya menjadi
lima generasi dan ada yang membaginya menjadi tujuh generasi. Pembagian
periodisasi itu diawali dengan periode penggagas, yaitu: masa Abūl-Aswad
a’d-Duwalī, kemudian dilanjutkan oleh generasi lain dengan tokoh-tokohnya
sebagai berikut. Generasi pertama, tokohnya Nashr bin ‘Āshm, ‘Anbasah alFīl,
‘Abdu’r-Rachmân bin Hurmaz, Yachya bin Ya‘mar. Generasi kedua, tokohnya Ibnu
Abī Ischāq, ‘Isā bin ‘Umar al-Tsaqafiy al-Bashariy, Abu ‘Umar bin al-‘Alā′.
Generasi ketiga, generasi al-Akhfasy al-Akbar, al-Kholīl bin Achmad dan Yūnus.
Generasi keempat dengan tokoh yang berperan adalah Sibawaihi dan al-Yazīdī.
Generasi kelima menjadi miliknya al-Akhfasy. Generasi keenam, tokohnya ada lima
orang yaitu al-Jarmī, al-Māzanî, Abū Chātim a’s-Sijistānī, a’t-Tawzī, dan
al-Riyāshī. Generasi keenam adalah masa al-Mabrid.
Biografi
Abul-Aswad a’d-Duawali
Tiga tahun
sebelum Nabi Muhammad S.A.W. diangkat menjadi nabi lahirlah seorang tokoh yang
terkenal di dalam ilmu Nahwu yaitu Abul-Aswad a’d-Duawali (w. 69 H / 688 M), beliau berasal dari kalangan keturunan kinanah. Nama lengkap
lengkap Abul-Aswad
a’d-Duawali adalah Zhalim bin ‘Umar bin Supyān bin Jundal bin
Ya’mur bin Halis bin Nufatsah bin ‘Uda ibn Du’al bin Abdu Manah bin Kinanah. Abul-Aswad a’d-Duawali juga kerap
dipanggil dengan sapaan Utsman. Abul-Aswad a’d-Duawali terkenal memiliki
daya ingat sangat baik. Ia memberikan kontribusi
pemikiran yang luar biasa terhadap ilmu nahwu dan bahasa Arab.[1] Abû-l Aswad a’d-Duwalī merupakan
orang yang fasih bacaan Qur’annya. Hal ini diketahui bahwa ia belajar qira’ah dari Utsmân bin ‘Affan
dan Ali ibn Abî Thālib.
Abu Aswad
al-Du’ali lahir pada zaman Nabi Muhammad S.A.W. namun beliau bukanlah dari
kalangan sahabat Nabi Muhammad S.A.W. beliau adalah dari kalangan tabiin. Ini
adalah disebabkan beliau tidak pernah berjumpa dengan Nabi Muhammad S.A.W. Pada
zaman Khalifah Umar al-Khattab.
Dia meninggal karena wabah ganas
yang terjadi pada tahun 69 H (670-an M) dalam usia 85 tahun. Ali bin Abi Thalib R.A. adalah orang yang pertama kali
mencetus kodifikasi ilmu Bahasa Arab, dia menyusun pembagian kalimat, bab inna
wa akhawatuha, idhafah, imalah, ta’ajjub, istifham dan lain-lain, kemudian
dia memerintahkan kepada Abul Aswad Ad-Dualiy untuk mengembangkannya sambil
berkata: "“انح هذا النجو; unhu
hadzan nahwa!” (ikutilah yang semisal ini)".[2]
Kontribusi Abu Aswad al-Du’ali Di Dalam Ilmu Nahwu dan Bahasa Arab
Ali R.A. adalah
guru Abūl-Aswad a’d-Duwali yang mana Abūl-Aswad a’d-Duwali telah
mempelajari ilmu Fiqh, al-Quran serta ilmu Nahwu dari Ali R.A. Mungkin karena hubungan guru dan murid yang
menjadikan Ali R.A dan Abû-l
Aswad a’d-Duwalī sangat erat. Selain
menimba ilmu dengan Ali R.A. Abūl-Aswad a’d-Duwalī
juga meriwayatkan hadis dari Ali R.A. juga ada
meriwayatkan hadis daripada Ibn Abbas, Ibn Mas’ud dan Abu Dhar al-Ghifari R.A.
Berkembangnya
Islam menyebabkan banyaknya percampuran
antara orang Arab atau orang selain Arab (A’jam). Dengan
keadaan yang demikian percampuran tersebut mengakibatkan kerusakan pada bahasa
Arab itu sendiri yaitu Lahn atau kesalahan Ucap. Hal tersebut tentunya
aka memberikan kesan buruk terhadap Al-Qur’an dan Hadits.
Dikisahkan
dalam sebuah riwayat Abūl-Aswad a’d-Duwali pada
suatu hari melewati seorang yang tengah membaca Alquran. Ia pun mendengar surah
At-Taubah ayat 3 dibaca dengan kesalahan harakat diujung kalimat. Meski hanya
satu kesalahan harakat, artinya sangat jauh berbeda. Ad-Duali mendengar seorang tersebut membaca “Anna
Allaha bari'un-mina-l musyrikiin wa rasuulihu,” seharusnya dibaca “Rasuluhu”.
Jika diartikan akan sangat jauh berbeda. Pembacaan pertama yang salah tersebut
berarti “Sesungguhnya Allah berlepas diri dari orang-orang musyrik dan rasulnya
...” Tentu saja arti tersebut menyesatkan, karena Allah tidak pernah berlepas
dari utusanNya. Kalimat yang semestinya yakni “Sesungguhnya Allah dan
Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrikin.” Hanya satu harakat,
tapi mengubah arti yang begitu banyak.
Dikisahkan
juga bahwa yang membuat Abu-Aswad a’d-Duwali semakin semangat mengembangkan bahasa Arab adalah pada suatu malam
ia berjalan dengan putrinya, kemudian putrinya berkata:" “ما أجمل السماء; maa ajmalus sama’i” (Apa
yang paling Indah di langit?), kemudian Abu-Aswad
a’d-Duwalī berkata:" “نجومها; nujumuha” (bintang-bintangnya), kemudian putrinya
berkata, “Saya bermaksud mengungkapkan ketakjuban (kekaguman)”. Maka Abu-Aswad a’d-Duwali berkata
membenarkan, katakanlah:"“ما أجمل السماء;
“maa ajmalas sama’a”, (betapa indahnya langit).
Sejak
peristiwa itulah, Abu-Aswad a’d-Duwali mulai menekuni nahwu dan berkeinginan memperbaiki bahasa Arab. Ia
khawatir jika tak dibuat sebuah kaidah, bahasa Arab akan mudah lenyap begitu
saja. Mengingat di era kekhalifahan Ar-Rasyidin pun, sudah terdapat kesalahan
baca Alquran dan pada saat itulah Abu-Aswad
a’d-Duwali membuat kaidah tata bahasa Arab.
Karya
Abu-Aswad a’d-Duwali
dalam bidang nahwu antara lain pemberian tanda titik yang berbeda-beda sesuai
fungsi kata dalam kalimat (irab). Dalam suatu riwayat dijelaskan bahwa Abu-Aswad a’d-Duwali dan
Nashr bin ‘Ashim, Abdu a’rRahman bin Hurmaz telah menyusun materi nahwu itu
dalam beberapa bab yaitu ‘Awamil al-rafa, al-Nashb, al-Khofad, al-jazm,
bab al-Fāil, mafūl bihi, a’t-taajub dan al-Mudhof.[3]
Dalam
sebuah riwayat dikisahkan bahwa Abu-Aswad a’d-Duwali memberikan tinta dan pena
kepada seorang yang bernama Abdul Qais, dengan tinta dan pena itu Abdul-Qais
melakukan apa yang diperintahkan oleh Abūl-Aswad a’d-Duwalī.
- Ketika
Abūl-Aswad a’d Duwalī membaca huruf yang berharakat fathah, maka ia akan
memberikan titik merah di atas huruf itu.
-
Ketika
ada huruf yang dibaca dengan kasrah, maka huruf itu akan diberi tanda titik merah di bawahnya.
-
Dan
ketika ada huruf dibaca dengan dhommah,
maka huruf itu akan diberi tanda merah di antara huruf itu dan sesudahnya”.[4]
Dalam
perkembangannya, upaya Ad-Duali ini disempurnakan oleh beberapa muridnya. yakni
Nasr Ibn 'Ashim (wafat 707 Masehi) dan Yahya Ibn Ya'mur (wafat 708 Masehi).
Mereka melakukan penyempurnaan harakat tersebut pada masa pemerintahan Abdul
Malik Ibn Marwan di Dinasti Umayyah. Selain keduanya, Ad-Duali juga memiliki
beberapa murid lain yang juga pakar dalam bahasa Arab. Beberapa muridnya, yakni
Abu Amru bin 'alaai, Al Kholil al Farahidi al Bashri yang merupakan pelopor
ilmu arudh dan penulis kamus Arab pertama.
2 kesimpulan
Peletak
dasar nahwu pertama adalah Abu Aswad a’d-Duawali (w. 69 H / 688 M) ia berasal dari kalangan keturunan kinanah. Nama lengkap lengkap Abul-Aswad
a’d-Duawali adalah Zhalim bin ‘Umar bin Supyān bin Jundal bin
Ya’mur bin Halis bin Nufatsah bin ‘Uda ibn Du’al bin Abdu Manah bin Kinanah. Abu Aswad a’d-Duawali juga kerap
dipanggil dengan sapaan Utsman. Abu Aswad a’d-Duawali terkenal memiliki
daya ingat sangat baik. Abu Aswad al-Du’ali lahir pada zaman Nabi Muhammad S.A.W. namun beliau
bukanlah dari kalangan sahabat Nabi Muhammad S.A.W. beliau adalah dari kalangan
tabiin.
Kontribusi
Abūl-Aswad a’d-Duwali dalam ilmu nahwu adalah ia adalah orang yang pertama kali
memberikan tanda baca pada huruf-huruf al-Qur’an.
- huruf
yang berharakat fathah, diberikan berikan titik merah di atas huruf itu.
- huruf
yang berharakat kasrah, diberikan tanda
titik merah di bawahnya.
- huruf
yang berharalat dhommah, diberikan tanda
merah di antara huruf itu dan sesudahnya.
Daftar
pustaka
Mantaap. Lanjutkan..
BalasHapusBtw, ini karya pertama di blog baru kmu atau gmn mas imron?