Minggu, 08 Oktober 2017

Nadzam-nadzam Kitab Tathmainnul Quluub



                                                   TATHMAINNUL QULUUB 
                                                        (KETENANGAN HATI)

  
Ketenangan HATI merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam kehidupan manusia siapapun itu. Sadar atau tidak, ketenangan hati sebenarnya sudah terkonsep sedemikian rapinya dalam Agama Islam yang didasari oleh Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad saw. Namun yang menjadi polemik saat ini adalah kebanyakan manusia mengabaikan eksistensi Agama Islam itu sendiri. Sehingga banyak dari umat Islam yang lupa akan jati dirinya dan mudah terseret oleh derasnya arus zaman.
Pada tulisan ini akan dipaparkan  nadzam-nadzam dari seorang kyai muda yaitu K.H Taufiqul Hakim yang merupakan pengasuh PON-PES Darul Falah Amtsilati. Beliau merupakan pengagas kitab terkenal yaitu kitab Amtsilati. Kitab Amtsilati merupakan kitab yang digagas oleh beliau sebagai metode untuk membaca kitab kuning agar lebih mudah memahami Al-Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad saw. Nadzam-nadzam yang akan dipaparkan adalah nadzam yang berasal dari kita Tathmaiinul Qulub yang artinya ketenangan hati. Kitab Tathmaiinul Qulub sendiri merupakan buah tangan K.H Taufiqul Hakim yang berbentuk nadzoman. Adapun pemaparanya adalah sebagai berikut:  

SEMANGATLAH !!!
إذا أراد الله عبداً خيره # فنهض الله تعالى غيرته
 Ketika Allah swt Allah mengendaki hambanya # jadi baik dibangkitkan semangatnya.

JANGANLAH PATAH SEMANGAT
إذا أراد الله عبداً هلكه # فذهب الله تعالى غيرته
 Ketika Allah swt Allah mengendaki hambanya # jadi rusak dihilangkan semangatnya.


MUQODDIMAH
  الحمد لله الذي قد أرسل #  سيّدنا محمدا مكمّلا
Puji Allah pengutus Nabi Muhammad # Untuk menyempurnakan akhlaknya umat.

صلاته سلامه عليه # وأله كذا على أصحابه
Sholawat dan juga salam atas Nabi # Keluarga dan para Sahabat Nabi.


BAB 1 
IKHLAS KARNA ALLAH SWT

Ibadahlah dengan rasa ikhlas karena Allah swt, Bukan karena makhluk.
  • Dalam hal ibadah, sebaiknya kita beribadah tak mengharap surga dan bukan juga beribadah karena takut api neraka. Oleh karena itu  seharusnya ketika kita beribadah semua karena Allah swt bukan karna yang lain  diikuti dengan rasa penuh harapan akan Ridho dan Cinta-Nya. 

أخلص عبادتك لله علا #أطلب بها رضى الأله جلّ
Ibadahlah dengan ikhlas karna Allah # tak karna makhluk carilah ridho Allah.

Keterangan : 
  • Ibadah karena mengharapkan surga itu diperbolehkan, namun ibadah karena mencari Ridho Allah swt itu jauh lebih indah.
  • Ibadah karena takut api neraka itu diperbolehkan, namun ibadah karena mencari Ridho Allah swt itu jauh lebih indah.
  • Beramal baik, bersedekah, sholat dhuha karena ingin kaya itu diperbolehkan, namun ibadah karena mencari Ridho Allah swt itu jauh lebih indah.

أعبد له سبحانه كالمخلصين # لاتعبدنّه علا كاالتاجرين
Ibadahlah seperti para mukhlishin # jangan seperti pedagang dengan yakin.

Beribadahlah seperti ibadahnya kaum Mukhlisin atau orang-orang yang ikhlas. Jangan sampai beribadah seperti ibadahnya para budak. Para budak mau bekerja karena takut akan dicambuk. Mau menjalankan ibadah karena takut dibakar api neraka.

Masalah utama manusia adalah tidak sanggup menerima kenyataan :

أعظم مسئلة ناس هم لا # يستسلمون واقعا تقبّلا
Masalah yang paling utama manusia # pada kenyataan tak sanggup nerima.

Tidak ada keikhlasan maka tidak ada kebahagiaan. Ada banyak hal yang telah Allah persiapkan untuk siapa saja melalui kejadian yang tidak ia sukai: 

من كان لم يخلص فلا ينال # سعادة الدارين ذاك يجلو
Barang siapa tidak ikhlas hatinya # tak bahagia dunia akhiratnya.

Cara terbaik untuk ikhlas adalah menyadari bahwa apapun yang telah terjadi memang harus terjadi, karena ada tujuan mulia di sana, seperti pendewasaan, kemuliaan, dan kesuksesan. Ikhlas berarti seseorang mampu menerima kenyataan bahwa hal itu harus terjadi.
  • Kalau kita melihat suatu masalah sebagai penderitaan maka pasti kita akan sakit dan menderita.
  • kalau kita melihat suatu masalah sebagai proses pendewasaan yang membawa kebaikan dalam kehidupan maka pasti berkurang sakitnya.
هو قبول واقع لابدّ أن # يقع في الدنيا بإذن الرحمن
Ikhlas itu sanggup menerima pada # kenyataan pasti terjadi adanya.


Alangkah baiknya bila seseorang mampu menambah kesadaran dan pengertian, bahwa semua ini terjadi atas izin Allah swt, dan ada maksud yang mulia di dalamnya.seseorang harus siap menyongsog masa depan yang indah dan kesuksesan sudah sangat dekat.


BAB 2
KEBAHAGIAAN

Kebahagian bukanlah tentang keberhasilan dalam hal mendapatkan sesuatu yang belum dimiki, melainkan menghargai, mensyukuri dan menikmati yang sudah dimiliki. 

سعادة ليست بنيل ما لا تملك بل بشكر ملكك اعقلا
Bahagia bukan dapat yang belum ada # tapi nikmati dan syukuri yang ada.

Kebahagiaan hati itu terleta pada memberi, semakin banyak memberi semakin banyak kebahagiaan dalam hati. 
وإنما سعادة القلوب تكون في صدقة تلك اطلب
Sesungguhnya kebahagiian hari # itu sedekah harta yang dimiliki.

Kesenangan hidup terpadat pada jiwa yang melayani, semakin banyak melayani maka banyak kesenangan yang didapat.

وإنما سعادة الحياة في دارين في المخدمة فالله اقتف
Sesungguhnya kesenangan hidup itu # dalam melayani umat islam tentu.

Orang yang kaya itu bukanlah orang yang bisa mengumpulkan, memiliki, dan menguasai banyak harta, namun orang yang kaya adalah orang yang suka memberi dan senang melayani.

إن الغني ليس جامع المال بل هو يرغبن في إنفاق مال 
Kaya bukanlah orang yang kaya harta # tapi orang yang suka sedekahi harta.

BAB III
DI ATAS LANGIT MASIH ADA LANGIT

Di bawah bumi masih ada bumi, di atas orang yang pandai masih ada yang lebih pandai, di bawah orang sengsara masih ada orang yang lebih sengsara. 

وفوق كل عالم من اعلم وتحت من شقى اعلم
Atas yang pandai ada yang melebihi # sengsara ada lebih sengsara pasti

Bila dirirmu kaya, atau sukses, bersyukurlah, tapi jangan tinggi hati. Di luar sana, masih banyak yang lebih kaya dan sukses. 

إن كنت ذا الغني اشكر الله لكن لاتك ذاالكبر تواضع للمتين
Jika kaya syukur jangan tinggi hati # masih banyak yang kaya melebihi. 




Kamis, 05 Oktober 2017

PELETAK ILMU NAHWU



MAKALAH STUDI TOKOH "ABU ASWAD AD-DU’ALI"



PENDAHULUAN
  

      A. Latar Belakang
Nahwu adalah ilmu yang mempelajari kaidah untuk mengenal fungsi-fungsi kata yang masuk pada kalimat, mengenal hukum akhir kata, dan untuk mengenal cara memberikan tanda baca atau i’rob. Nahwu merupakan salah satu cabang ilmu bahasa yang mendapatkan perhatian khusus dari khalifah ke empat yaitu Ali bin Abi Thalib. Hal ini didasari karena banyaknya orang Arab pada zamannya yang melakukan lahn atau kesalahan dalam mengucapkan bahasa Arab. Ali bin Abi Thalib pun memerintahkan muridnya yaitu Abul-Aswad a’d-Duwali untuk menyelesaikan problem dalam kasus lahn.
Dalam perkembangan ilmu nahwu terdapat sejumlah madrasah yang muncul yaitu mazhab Bashrah, Kufah, Baghdad, Andalusia, dan Mesir. Mazhab Bashrah merupakan pionir bagi mazhab lainnya, karena ia merupakan peletak pertama kaidah nahwu. Sementara itu, mazhab lainnya adalah pengembangan dari mazhab Bashrah. Hal ini disebabkan pendiri atau tokoh-tokoh mazhab-mazhab tersebut merupakan murid dari tokoh-tokoh mazhab Bashrah.
Maka dalam makalah ini akan membahas biografi Abul-Aswad a’d-Duawali, kontribusi Abul-Aswad a’d-Duawali dalam ilmu nahwu dan murid-murid Abul-Aswad a’d-Duawali.

      B. Rumusan Masalah
Berangkat dari latar belakang diatas maka rumusan pada makalah ini adalah sebagai berikut?
1.      Siapa Abul-Aswad a’d-Duawali?
2.      Apa kontribusi yang diberikan oleh Abul-Aswad a’d-Duawali dalam ilmu nahwu?  
     C. Tujuan penulisan
Adapun penulisan makalah ini memeliki beberapa tujuan diantaranya adalah :
1.      Mengetahui biografi Abul-Aswad a’d-Duawali.
2.      Mengetahui kontribusi Abul-Aswad a’d-Duawali dalam ilmu nahwu.


PEMBAHASAN

    

       Madzhab Basrhoh
Periodisasi generasi Ulama Bashrah terdapat perbedaan pendapat. Ada yang membaginya menjadi lima generasi dan ada yang membaginya menjadi tujuh generasi. Pembagian periodisasi itu diawali dengan periode penggagas, yaitu: masa Abūl-Aswad a’d-Duwalī, kemudian dilanjutkan oleh generasi lain dengan tokoh-tokohnya sebagai berikut. Generasi pertama, tokohnya Nashr bin ‘Āshm, ‘Anbasah alFīl, ‘Abdu’r-Rachmân bin Hurmaz, Yachya bin Ya‘mar. Generasi kedua, tokohnya Ibnu Abī Ischāq, ‘Isā bin ‘Umar al-Tsaqafiy al-Bashariy, Abu ‘Umar bin al-‘Alā′. Generasi ketiga, generasi al-Akhfasy al-Akbar, al-Kholīl bin Achmad dan Yūnus. Generasi keempat dengan tokoh yang berperan adalah Sibawaihi dan al-Yazīdī. Generasi kelima menjadi miliknya al-Akhfasy. Generasi keenam, tokohnya ada lima orang yaitu al-Jarmī, al-Māzanî, Abū Chātim a’s-Sijistānī, a’t-Tawzī, dan al-Riyāshī. Generasi keenam adalah masa al-Mabrid.
Biografi Abul-Aswad a’d-Duawali
Tiga tahun sebelum Nabi Muhammad S.A.W. diangkat menjadi nabi lahirlah seorang tokoh yang terkenal di dalam ilmu Nahwu yaitu Abul-Aswad a’d-Duawali (w. 69 H / 688 M), beliau berasal dari kalangan keturunan kinanah. Nama lengkap lengkap Abul-Aswad a’d-Duawali adalah  Zhalim bin ‘Umar bin Supyān bin Jundal bin Ya’mur bin Halis bin Nufatsah bin ‘Uda ibn Du’al bin Abdu Manah bin Kinanah. Abul-Aswad a’d-Duawali juga kerap dipanggil dengan sapaan Utsman. Abul-Aswad a’d-Duawali terkenal memiliki daya ingat sangat baik. Ia memberikan kontribusi pemikiran yang luar biasa terhadap ilmu nahwu dan bahasa Arab.[1] Abû-l Aswad a’d-Duwalī merupakan orang yang fasih bacaan Qur’annya. Hal ini diketahui bahwa ia  belajar qira’ah dari Utsmân bin ‘Affan dan  Ali ibn Abî Thālib.
Abu Aswad al-Du’ali lahir pada zaman Nabi Muhammad S.A.W. namun beliau bukanlah dari kalangan sahabat Nabi Muhammad S.A.W. beliau adalah dari kalangan tabiin. Ini adalah disebabkan beliau tidak pernah berjumpa dengan Nabi Muhammad S.A.W. Pada zaman Khalifah Umar al-Khattab.
   Dia meninggal karena wabah ganas yang terjadi pada tahun 69 H (670-an M) dalam usia 85 tahun. Ali bin Abi Thalib R.A. adalah orang yang pertama kali mencetus kodifikasi ilmu Bahasa Arab, dia menyusun pembagian kalimat, bab inna wa akhawatuha, idhafah, imalah, ta’ajjub, istifham dan lain-lain, kemudian dia memerintahkan kepada Abul Aswad Ad-Dualiy untuk mengembangkannya sambil berkata: "“انح هذا النجو; unhu hadzan nahwa!” (ikutilah yang semisal ini)".[2]
Kontribusi Abu Aswad al-Du’ali Di Dalam Ilmu Nahwu dan Bahasa Arab
Ali R.A. adalah guru Abūl-Aswad a’d-Duwali yang mana Abūl-Aswad a’d-Duwali telah mempelajari ilmu Fiqh, al-Quran serta ilmu Nahwu dari Ali R.A. Mungkin karena hubungan guru dan murid yang menjadikan Ali R.A dan Abû-l Aswad a’d-Duwalī sangat erat. Selain menimba ilmu dengan Ali R.A. Abūl-Aswad a’d-Duwalī juga meriwayatkan hadis dari Ali R.A. juga ada meriwayatkan hadis daripada Ibn Abbas, Ibn Mas’ud dan Abu Dhar al-Ghifari R.A.
Berkembangnya Islam menyebabkan banyaknya percampuran antara orang Arab atau orang selain Arab (A’jam). Dengan keadaan yang demikian percampuran tersebut mengakibatkan kerusakan pada bahasa Arab itu sendiri yaitu Lahn atau kesalahan Ucap. Hal tersebut tentunya aka memberikan kesan buruk terhadap Al-Qur’an dan Hadits.
Dikisahkan  dalam sebuah riwayat Abūl-Aswad a’d-Duwali pada suatu hari melewati seorang yang tengah membaca Alquran. Ia pun mendengar surah At-Taubah ayat 3 dibaca dengan kesalahan harakat diujung kalimat. Meski hanya satu kesalahan harakat, artinya sangat jauh berbeda. Ad-Duali mendengar seorang tersebut membaca “Anna Allaha bari'un-mina-l musyrikiin wa rasuulihu,” seharusnya dibaca “Rasuluhu”. Jika diartikan akan sangat jauh berbeda. Pembacaan pertama yang salah tersebut berarti “Sesungguhnya Allah berlepas diri dari orang-orang musyrik dan rasulnya ...” Tentu saja arti tersebut menyesatkan, karena Allah tidak pernah berlepas dari utusanNya. Kalimat yang semestinya yakni “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrikin.” Hanya satu harakat, tapi mengubah arti yang begitu banyak.
Dikisahkan juga bahwa yang membuat Abu-Aswad a’d-Duwali semakin semangat mengembangkan bahasa Arab adalah pada suatu malam ia berjalan dengan putrinya, kemudian putrinya berkata:" “ما أجمل السماء; maa ajmalus sama’i” (Apa yang paling Indah di langit?), kemudian Abu-Aswad a’d-Duwalī berkata:" “نجومها; nujumuha” (bintang-bintangnya), kemudian putrinya berkata, “Saya bermaksud mengungkapkan ketakjuban (kekaguman)”. Maka Abu-Aswad a’d-Duwali berkata membenarkan, katakanlah:"“ما أجمل السماء; “maa ajmalas sama’a”, (betapa indahnya langit).
Sejak peristiwa itulah, Abu-Aswad a’d-Duwali mulai menekuni nahwu dan berkeinginan memperbaiki bahasa Arab. Ia khawatir jika tak dibuat sebuah kaidah, bahasa Arab akan mudah lenyap begitu saja. Mengingat di era kekhalifahan Ar-Rasyidin pun, sudah terdapat kesalahan baca Alquran dan pada saat itulah Abu-Aswad a’d-Duwali membuat kaidah tata bahasa Arab.
Karya Abu-Aswad a’d-Duwali dalam bidang nahwu antara lain pemberian tanda titik yang berbeda-beda sesuai fungsi kata dalam kalimat (irab). Dalam suatu riwayat dijelaskan bahwa Abu-Aswad a’d-Duwali dan Nashr bin ‘Ashim, Abdu a’rRahman bin Hurmaz telah menyusun materi nahwu itu dalam beberapa bab yaitu ‘Awamil al-rafa, al-Nashb, al-Khofad, al-jazm, bab al-Fāil, mafūl bihi, a’t-taajub dan al-Mudhof.[3]
Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa Abu-Aswad a’d-Duwali memberikan tinta dan pena kepada seorang yang bernama Abdul Qais, dengan tinta dan pena itu Abdul-Qais melakukan apa yang diperintahkan oleh Abūl-Aswad a’d-Duwalī.
-       Ketika Abūl-Aswad a’d Duwalī membaca huruf yang berharakat fathah, maka ia akan memberikan titik merah di atas huruf itu.
-          Ketika ada huruf yang dibaca dengan kasrah, maka huruf itu akan diberi tanda titik merah di bawahnya.
-          Dan ketika  ada huruf dibaca dengan dhommah, maka huruf itu akan diberi tanda merah di antara huruf itu dan sesudahnya”.[4]
Dalam perkembangannya, upaya Ad-Duali ini disempurnakan oleh beberapa muridnya. yakni Nasr Ibn 'Ashim (wafat 707 Masehi) dan Yahya Ibn Ya'mur (wafat 708 Masehi). Mereka melakukan penyempurnaan harakat tersebut pada masa pemerintahan Abdul Malik Ibn Marwan di Dinasti Umayyah. Selain keduanya, Ad-Duali juga memiliki beberapa murid lain yang juga pakar dalam bahasa Arab. Beberapa muridnya, yakni Abu Amru bin 'alaai, Al Kholil al Farahidi al Bashri yang merupakan pelopor ilmu arudh dan penulis kamus Arab pertama.

2      kesimpulan
Peletak dasar nahwu pertama adalah Abu Aswad a’d-Duawali (w. 69 H / 688 M) ia berasal dari kalangan keturunan kinanah. Nama lengkap lengkap Abul-Aswad a’d-Duawali adalah  Zhalim bin ‘Umar bin Supyān bin Jundal bin Ya’mur bin Halis bin Nufatsah bin ‘Uda ibn Du’al bin Abdu Manah bin Kinanah. Abu Aswad a’d-Duawali juga kerap dipanggil dengan sapaan Utsman. Abu Aswad a’d-Duawali terkenal memiliki daya ingat sangat baik. Abu Aswad al-Du’ali lahir pada zaman Nabi Muhammad S.A.W. namun beliau bukanlah dari kalangan sahabat Nabi Muhammad S.A.W. beliau adalah dari kalangan tabiin.
Kontribusi Abūl-Aswad a’d-Duwali dalam ilmu nahwu adalah ia adalah orang yang pertama kali memberikan tanda baca pada huruf-huruf al-Qur’an.
-     huruf yang berharakat fathah, diberikan berikan titik merah di atas huruf itu.
-    huruf yang berharakat kasrah, diberikan  tanda titik merah di bawahnya.
-    huruf yang berharalat dhommah, diberikan  tanda merah di antara huruf itu dan sesudahnya.
Daftar pustaka
 


[1] Al-Fadli, al-Hadi, Marâkiz al-Dirāsah al-Nahwuiyah, Urdun: Maktabah al-Manār, 1986,
hlm. 8.
[2] الفهرست لابن النديم (النشرة الثانية المكتبة التجارية) ص 66.
[3] Dhoif, Syauqi, Al-Madârisul-Nachwiyah, Kairo: Darul-Ma ‘ārif, 1968,  hlm 6.
[4] Hasan, Taman, Al-Ushūl : Dirāsah Ibstimūlūjiyah li Ushūlil -Fikri al-Lughoh alArabiyah, Maghrib: a’d-Dārul-Baydhoh,1991, hlm. 32